BERKUNJUNG KE TAMAN BACA RAWAGEDE

Gak terasa udah seminggu berlalu waktu gue bersama anak-anak di daerah Rawagede, Bogor. Sekarang gue baru bisa menuliskan kisahnya hari ini. Oke kalian pasti penasaran kan bagaimana keseruan gue selama berada disana bersama anak-anak tercinta. Langsung aja kita simak!


doc. pribadi

Awal mula perjalanan gue sama temen-temen itu sempet transit dulu di minimarket dikarenakan hujan deras. Jadi gue ceritain dari awal banget nih, namanya juga cerita tentang perjalanan jadi mesti dirinciin haha. Lalu setelah beberapa waktu kemudian gue akhirnya melanjutkan perjalanan menuju lokasi yaitu daerah Rawagede, Bogor. Gue bersama teman Aksi 1000 Buku mengadakan kegiatan untuk mengajar anak-anak yang tinggal di Rawagede, kebetulan saat itu hari libur tanggal merah jadi gue punya kesempatan untuk ikut. Sebenernya gue mau ikut dari sejak tahun lalu, tepatnya bulan desember saat baru mau dibuatnya taman baca. Tapi berhubung schedule gue padat, maklum selebritis ye kan (sukasuka lo dah!) Jadi baru ini kesampaiannya.

doc. pribadi

Jujur baru kali ini gue tidur ala anak pendakian, biasanya kan diem-diem aja dirumah. Atau istilah kerennya anak rumahan, gue ke warung aja udah dipanggilin lagi sama emak. Tapi ini serius (jarang-jarang gue serius) gue benar- benar menikmati alam meskipun hujan, dan kalian tau sendiri cuacanya disana cukup dingin. Tapi kalo udah kumpul bareng temen-temen mah terasa hangat karena kebersamaannya.

doc. pribadi

Tujuan gue kemari tidak lain untuk bertemu anak-anak yang mempunyai semangat untuk belajar; meraih cita-cita sama seperti gue. (Gak ada yang nanya juga junet) Gue gak sendiri, gue sama temen-temen lainnya punya pemikiran (cara pandang) yang sama mengenai anak-anak tentang pendidikan. Menurut gue bogor itu lokasinya gak terlalu jauh dari tempat gue berasal dibanding harus ke london atau istanbul (mulai ngaco) kondisinya masih alami banget, dalam artian alami disini sampe-sampe gue gak nemu sinyal, pake lampu emergency, dsb. Maaf nih gue bukan norak atau apalah, ngeluh dan segala macemnya. Tapi gue fikir, kalo yang mempunyai keterbatasan aja mereka masih punya semangat yang tinggi; miliki impian. Apalagi kita yang sudah dicukupi kebutuhannya. Sekarang mau belajar apa aja cari di internet, terus kalo menurut gue pribadi; gue lebih nyaman yang seperti ini. Hidup berteman dengan alam, dibanding harus balik lagi. (Halaaahh ngomong apaan sih lu?). Gue seneng kalo ada anak-anak yang suka membaca buku. Karena meskipun mereka hidup di daerah pelosok, dengan membaca buku wawasan nya pun tak kalah dengan anak-anak yang berpendidikan seragam (formal). Itu tinggal gimana tanggung jawab kita untuk menyemangati mereka.

doc. pribadi

Gue dan teman-teman menyusuri rumah warga untuk data penduduk, oh tidak gue kerumah warga untuk ngajak anak-anaknya belajar di taman baca. Karena sayang dong, taman baca nya udah dibuat; udah disediain. Tapi gak ada yang gunain, makanya kami tim oranye (gak power rangers sekalian) berniat untuk mengajak anak-anak belajar sambil bermain. Ini mah udah kerjaan gue tiap hari sales door to door ngetukin tiap pintu rumah, bukan ngetuk pintu hati.

doc. pribadi

Ada kalanya kita memedulikan diri sendiri, namun ada kalanya juga kita harus peduli dengan orang-orang di sekitar kita. Jadi jangan hanya mementingkan diri sendiri, apalagi mengorbankan orang lain untuk kepentingan diri sendiri. Orang mau berkata apa juga terserah, gue ini blagu ya udah biasa. Pencitraan? mau diliat orang monggoo.. yang penting niatnya bukan itu, gue cuma mau liat anak-anak Indonesia maju dalam pendidikan menjadi anak yang cerdas. Karena merekalah tuan rumah di negerinya sendiri. Jangan sampai apa yang udah dimiliki Indonesia seperti kekayaan sumber daya alam, anak-anak kita; generasi muda kita gak bisa mengelolanya (ini lagi bener ngomongnya). Gue gak mau ngecewain pahlawan terdahulu, karena pahlawan yang pergi lebih dulu itu perjuangannya lebih berat dibanding Kids Zaman Now. Lah sekarang? Sehari tanpa gadget aja terasa hampa, sama kayak gue.

 
doc. pribadi

Kalau bukan kita siapa lagi? Siapa yang peduli dengan nasib bangsanya sendiri selain generasi mudanya. Gue gak ada maksud menggurui, tapi ayo kita bareng-bareng kerjasama; berkolaborasi untuk mencapai visi misi di tahun 2030, syukur-syukur tahun 2045. Kenapa gue bilang seperti itu? Karena tahun 2045 merupakan zaman keemasan Indonesia mencapai usia 100 tahun kemerdekaan. Masih jauh? Iya emang masih jauh perjalanannya, maka dari itu kita mulai bangun pondasinya dari sekarang. Udah gak ada lagi yang namanya malas-malasan, keterbatasan biaya. Beasiswa bertebaran dimana-dimana, lo merasa gak pinter? Kerja. Cari duit yang bener buat lanjut kuliah. Sebenernya banyak cara buat mencapai cita-cita, tapi sayangnya kita lebih senang beralasan. Udah bukan waktunya galau lagi, karena beberapa tahun yang akan datang lo bakal dihadapi persaingan global artinya tidak hanya dari negeri lo sendiri menghadapi persaingan tapi global. Kalo gak dari diri sendiri yang ngelakuin perubahan siapa lagi? Orang tua lo? Orang tua hanya mengantarkan, sukses enggaknya ya lo sendiri yang nentuin. Gue emang belom ngerasain hidup merantau, tapi difikir lagi untuk apa? Orang berlomba-lomba cari pekerjaan di pusat ibukota terus gue keluar kota. Laluu? Gue bangun ladang di daerah orang gitu? Sebelum gue ke luar daerah atau negeri orang, setidaknya pahami dulu daerah sendiri. Bukan berarti jago kandang doang, bukaan. Bukan gitu maksud gue, tapi gue harus siapin diri dulu jangan lu nyelam ditengah lautan tapi gak pake pelampung, berenang apalagi kagak bisa. Nah itu nyeburin diri sendiri namanya. Intinya, anak-anak diberi pembekalan dulu sekalipun mereka punya cita-cita melanjutkan pendidikan keluar negeri yang penting udah punya basic nya. Gak asal pergi tapi gak punya bekalnya, mau sukses di negeri sendiri atau luar negeri asal tidak lupa sama kampung halaman dimana ia dilahirkan.

Dreams don't work unless you take action. The surest way to make your dreams come true is to live them. - Roy T. Bennett


 
doc. pribadi

Memilih bergaul dengan siapa itu penting, karena akan menentukan karakter kita sebenarnya. Berteman emang sama siapa aja, tapi setidaknya membawa pengaruh positif yang sama-sama mengajak kita untuk berkembang menjadi pribadi yang lebih baik. Berkata positif, memotivasi, dengan begitu kita merasa dihargai. Semua berhak untuk sukses, tapi bagaimana cara kita untuk menggapai kesuksesan tersebut. Kita tidak boleh mendahului nasib, karena nasib masih bisa diubah selama kita mau berusaha.

Write your dreams in journal,note book, card or on a cork. When you pen down your dreams, an a inner strength and divine power is activated for your to work towards the fulfillment of your dreams. - Lailah Gifty Akita

doc. pribadi


Gue bukan gak bisa nerima kata negatif ataupun anti-kritik. Tapi hanya ingin mencoba untuk memperbaiki diri, kalau mau dihargai ya harus menghargai oranglain. Seberapa banyak orang yang belajar dari kegagalannya lalu ia bisa meraih kesuksesannya, tentu tidak lepas dari kisah hidupnya yang seperti roller coaster. Sekarang gue lebih memahami kenapa gue harus berada di tempat A, lalu berpindah ke tempat B, hingga akhirnya tiba di tempat C. Karena ditempat-tempat tersebutlah gue belajar, belajar mengenal diri sendiri; belajar memahami karakter orang lain yang gak didapetin di bangku sekolah. Kuliah hanya menjadi penyempurna. Karena ilmu tidak terbatas, maka dari itu sampai kapan pun gue akan terus belajar. Gue gak suka dengar dari kata orang, sebelum gue sendiri yang ngeliat atau ngalamin. Belajar dari pengalaman orang lain silahkan aja, tapi kita juga harus berani beresiko untuk keluar dari Comfort Zone lo. Gak bisa kita nunggu orang lain ngecewain kita dulu misalnya? (Lah iya jadi curhat) kita baru memahami apa itu kesetiaan. Itu cuma contoh kecil aja, kecil. Masih banyak pelajaran lain yang lebih penting untuk masa depan kita. (Kita? Lo sama siapa? Lo kan jomblo junet!) 


doc. pribadi

Inilah kebersamaan gue bersama teman-teman dari Aksi 1000 Buku. Kalian memang sangat luar biasa! Semoga selalu diberi kesehatan dan semangat tanpa menyerah untuk menularkan virus membaca pada Anak-Anak di seluruh Indonesia. Tidak hanya di Rawagede aja yang kita kunjungi pekan kemarin. Terima kasih atas segala waktu dan kesempatannya. Pesan gue buat anak-anak Rawagede tetap untuk terus belajar karena impian itu dijemput, diperjuangkan.

The starlight
I will be chasing a starlight
Until the end of my life
I don't know if it's worth it anymore Starlight ーMuse

Post a Comment

0 Comments