CERPEN: GADIS METROMINI

Suara ayam jantan berkokok sudah terdengar dari adzan subuh tadi, aku dibangunkan oleh ibuku untuk melakukan rutinitas ku tiap hari yaitu membantu bapak untuk narik Mercy alias Metromini.

  Photo Credit By: www.getscoop.com

Setiap hari aku ikut bapakku yang bekerja sebagai supir metro. Bapakku berprofesi sebagai driver alias supir tranportasi Metromini B84 dengan jurusan Kalideres - Kota. Dan aku bertugas sebagai kernet nya. Meskipun aku seorang perempuan, tapi tidak pernah merasa malu bekerja seperti ini. Kurasa selagi halal pekerjaannya itu tak jadi masalah. Bapakku juga tidak melarangku untuk ikut dia bekerja, malah merasa terbantu. Nah, kalau ibuku kebetulan sebagai ibu rumah tangga yang mengurus kebutuhan rumah dan adik-adikku yang masih sekolah.

  Photo Credit By: rumahbagusminimalis.com

Sebelum berangkat narik biasanya aku pamitan dulu sama ibuku, lalu mengantarkan adik ke sekolah dan baru itu aku sama bapak menarik angkot untuk cari setoran.

  Photo Credit By: www.rizalmantovani.com

"Ayo, ayo, ayo Kalideres - Kota. Kalideres - Kota. Ibu mau kemana?" tanyaku sama calon penumpang. || "Ibu mau ke cengkareng neng." jawab si ibunya, lalu aku langsung jawab saja "Oh ya bu, ini lewat sana juga metromini nya. Ibu masuk aja." || "iya neng, makasih." ujar si ibunya. Selama perjalanan ku dari terminal Kalideres sampai terminal Kota. Banyak penumpang yang menggunakan jasa Metromini bapakku.

Sekarang semakin banyak alat transportasi umum, membuat aku harus bisa bersaing dengan jenis angkutan umum lainnya. Aku membantu bapak karena aku fikir dari pada tidak mendapatkan pekerjaan, jadi lebih baik ikut bapak narik metro. Tapi bapak juga pernah bilang seperti ini

"Peh, mau ampe kapan lu ngikut babeh narik mulu? Bukannya kagak boleh. Cuman sayang aja ama ijazah SMA lu, cari kerjaan apa kek' masa lu mau kayak babeh mulu jadi sopir angkot. Apalagi lu pan perempuan, emang kagak ade ape perusahaan yang nerima lu. Jadi sekertaris kek' jangan ikut babeh di jalanan mulu. Dikantoran gitu." tukasnya.

Mendengar ucapan bapak membuat aku ingin coba melamar pekerjaan lagi. Tapi yang jadi masalah, siapa yang mau nerima aku? Sudah lama aku tidak bekerja setelah lulus sekolah aku langsung ikut bapak narik. Jadi belum punya pengalaman di dunia kerja.

  Photo Credit By: cewekbanget.grid.id

"Beh, beh stop dulu beh ada yang mau naek." kataku sambil mengulurkan tanganku ke penumpang. Lalu akhirnya penumpang itu naik juga ke angkot ku, sambil menghela nafas dia bilang "huuhh..!! Makasih ya." ||"Sama-sama. Oke lanjuuut beh.." jawabku.

Setelah penumpang penuh, barulah aku menagih ongkos perjalanan pada semua penumpang. Aku sudah menemui berbagai macam karakter penumpang, ada yang bayar dengan uang pas, terus ada juga yang bayar dengan uang besar tapi tak perlu khawatir aku sudah menyiapkan receh koin-an untuk mengembalikan transaksi jasa Metromini milik bapakku. Yang khawatir itu jika penumpang tidak bayar, tapi selama ini untungnya aku belum menemukan tipe penumpang seperti itu. Kalau ada pun, seperti punya nyali saja dia menumpangi Metromini bapakku dengan cuma-cuma alias tidak bayar.

Terus aku menagih ongkos ke penumpang yang baru saja aku selamatkan itu, menyelamatkan rupiah yang akan masuk ke kantongku. Lumayan kan bisa buat tambah uang jajanku. Hehe becanda, "Bang, bang ongkosnya mana?" aku menagih ke dia yang sedang tertidur . || "Lo udah gue bilangin, jangan pernah deketin cewek gue. Tapi lu kayaknya malah nantangin, liat aja nanti apa yang terjadi sama lo. Gua bakal bikin hidup lo nyesel seumur hidup." kicau nya sambil tertidur. || "Nih orang kenapa ya? Dia sepertinya sedang mengigau." kataku langsung saja aku tepak bahunya. ||"Eh bang bangun!! Udeh siang juga masih ngigau aja. Ongkos nya mana sini udah mau sampe tempat tujuan nih!!" ucapku sambil membangunkan mimpi dia dari tidur pulasnya. 

    Photo Credit By: pinterest

Lalu orang-orang pada memperhatikanku dengan dia, dan ia pun terbangun sambil bilang "Oh ya maaf, aku tertidur pulas. Berapa emang ongkosnya?" aku bilang saja "Goceng, kayak biasanya." terus dia nanya "ini sudah dimana? Taman Palem udah lewat belum?" Aku bilang saja "Ini udah mau sampe terminal malah, kalau abang mau ke Taman Palem mah udah lewat dari tadi." || "Ya Tuhan, kenapa kau tak bangunkan aku dari tadi?" dia malah menyalahkan aku, jelas-jelas dia sendiri yang tidak dengar saat aku nagih ongkosnya. Terus aku jawab "Lah abang udah aye bangunin daritadi, tapi malah pulas tidurnya." dia langsung terdiam, akhirnya memutuskan untuk tetap duduk di Metromini ku sampai ikut rute balik.Selesai aku mengitari jalanan ibukota, akhirnya aku tiba dirumah juga. Ibuku sudah menyiapkan makanan untuk aku juga bapak. Aku bilang ke ibu "Masak apaan hari ini nyak'? Romannya enak bener dah dari aromanya." lalu ibuku bilang "nyak masakin makanan kesukaan babeh lu gabus pucung, sayur asem, terus lalapan sama sambel terasi." , bapak ku langsung menanggapi omongan ibuku "Wah, emang cakep dah bini gua. Tau aja lakinya lagi laper, yaudah langsung aja kita abisin peh makanan bikinan enyak lu." || "Siap beehh.." lanjut ucapanku.

  Photo Credit By: www.malesbanget.com

Pagi sudah menyambutku kembali untuk mengelilingi jalanan kota Jakarta lagi. Aku dengan bapakku selalu berdoa agar setoran yang didapat bisa mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari. Karena dirumah yang bekerja hanya aku sama bapakku, jadi aku harus semangat mengais rezeki di tengah ramainya Ibukota. Tak tau kenapa, aku bertemu dengan laki-laki itu lagi. Ya untungnya saja, biar bagaimanapun dia adalah penumpangku, kalau bukan sudah aku usir dari Metromini karena buat aku kesal. Saat aku menagih ongkos penumpang, aku tak sengaja melihat dia sedang menelepon seseorang. Kalau dilihat dari raut mukanya sih sepertinya dia sedang ada masalah, tapi apa peduli ku. Dia hanya penumpang disini, jadi aku tak perlu ikut campur dengan urusan orang lain. Sampai dihadapannya, aku berusaha tenang untuk menagih ongkosnya, karena dia masih memperlihatkan wajah muram nya. Kali ini aku bicara lebih pelan, sebab dia juga sedang tidak tidur. "Bang, ongkosnya?" aku menatap matanya sambil menadahkan tanganku didepan muka nya. Terus dia malah melamun, ini nih yang aku tidak suka. Waktu dia tertidur, padahal sudah diteriakin tapi dia tidak bangun. Sekarang matanya melek pun tetap saja tidak merespon apa-apa. Terus aku melambaikan tangan saja di mukanya sambil bilang "Halloo.. Disini masih ada kehidupan kan?" dia baru tersadar lagi dari kehidupan imajinasinya.

  Photo Credit By: products.office.com

Tibanya dikantor Zefan menemui klien yang akan bekerja sama dengan perusahaannya. Ya lelaki itu namanya Zefan, setelah pertemuannya selesai. Dia ingin menemui pasangannya yaitu Clara. Clara adalah pacarnya Zefan yang rencananya baru saja ingin ia lamar, namun kenyataan tak seindah bayangan. Clara diam-diam menyukai bosnya Zefan di kantor. Yang tak lain teman Zefan sendiri, ini sangat tidak masuk akal buat Zefan. Bagaimana bisa pacar dia menyukai bos nya itu, padahal Clara tahu bahwa dia ingin dilamar oleh kekasihnya. Clara menunjukan sifat aslinya, yang difikir Zefan dia seorang gadis sederhana tapi tidak dengan kejadian aslinya. Dia masih menilai sesuatu dengan materi. Zefan mungkin hanya karyawan biasa dikantor tempat ia bekerja. Namun, saat mereka sama-sama baru lulus kuliah, mereka berdua mencari pekerjaan bareng, saling mendukung karir satu sama lainnya. Hingga pada akhirnya ia bekerja di perusahaan yang sama, lalu bertemu lah dengan teman nya itu yang kebetulan menjadi bos di perusahaan. Tak disangka, temannya malah menikung Zefan dari belakang.

Sekarang Zefan sudah tak tahu apa yang harus dirinya lakukan lagi. Dia berencana untuk memutuskan berhenti ditempat bekerjanya. Karena menurutnya dengan bertahan ditempat ini dia semakin mengingat kekecewaan yang ia dapatkan dari pasangannya tersebut.

        Photo Credit By: pinterest

Matahari mulai terbenam, waktu pun kian menjelang malam. Aku dan bapakku akhirnya kembali kerumah sehabis dari rutinitas jalan-jalanku mencari rezeki untuk beristirahat.

Entah dunia ini sempit atau memang sekedar kebetulan. Aku bertemu dengan laki-laki itu lagi, ya laki-laki yang selalu merenungi akan nasibnya. Walaupun aku tak tahu apa yang sebenarnya dia fikirkan, tapi tiap kali dia bertemu denganku selalu saja muram.

Hari semakin petang, aku sudah sampai di terminal dan dia masih saja duduk dibelakang sendirian. Rasanya ingin meminta agar bapakku saja yang menagih ongkos angkotnya, tapi tidak mungkin aku menyuruh bapakku. Akhirnya aku mendatanginya, ternyata dia sudah sadar kalau aku akan menagih ongkosnya. Terus dia bilang "berapa nona ongkosnya?" || "Kau tiap hari menumpangi Metromini ku ini, tapi masih saja menanyakan berapa tarifnya." akupun jadi ke ikutan berbicara dengan bahasa baku.

Dia menanyakan aku "Nona, bolehkah aku meminta waktumu untuk bertanya sebentar saja?", || dalam hatiku menggumam "ini orang sedang kenapa? tidak biasa-biasanya dia ingin berbicara denganku." aku bilang saja "Mau nanya apaan sih emang bang? Udeh malem, situ emang kagak balik kerumah ape.." aku bicara dengan logatku saja biar tak terlalu berlama-lama ngobrol dengannya. Terus dia menjawab "Jangan seperti itulah, memangnya tidak boleh kita saling kenal? Aku ingin kenalan denganmu. Namaku Zefan, kamu?" dia bicara sambil ingin berjabat tangan denganku. "Aye namenye Syareefa, tapi orang biasa manggil aye Ipeh." jawabku hanya memperkenalkan nama saja tanpa harus berpegangan tangan. || "Oh baik, kalau boleh aku minta nomor kontak kamu? Tapi tenang kalau kamu tidak mau memberinya juga tidak apa-apa." lanjut pembicaraannya (sambil harap) || kata aku "buat apaan abang nanyain nomer hape aye. Lagian Metromini babeh aye kagak nerima rental." aku berusaha menolak. || "Yaudah kalau begitu, aku paham maksud kau nona. Nona Ipeh, tapi besok aku pasti menumpangi Metromini milik ayah mu lagi. Sampai bertemu besok oke." dia langsung turun dari Metromini ku. Aku tidak tahu apa yang sebenarnya dia fikirkan, seperti orang mabuk saja perkataannya.

   Photo Credit By: m.viva.co.id

 "Peh, bangun udah siang lu kagak nemenin babeh lu ape narik angkot." ibuku berteriak membangunkan aku yang masih saja ngantuk. Aku sempat lupa-lupa ingat kalau laki-laki itu mengajak ngobrolku semalam. Aku berharap nanti dia tidak benar-benar menumpangi Metromini ku lagi.

Benar ternyata dia tidak muncul hari ini, syukurlah. Lagian ngapain juga dia naik Metromini ku kalau cuma mengganggu saja, hari sudah mulai siang aku memperhatikan penumpang berjaket khaki itu mukanya ditutup dengan koran, sepertinya dia kelelahan habis membaca berita dikoran. Aku datangi saja dia, untuk menagih ongkos. Kalian tahu apa yang terjadi? Laki-laki malang itu lagi yang menumpangi Metromini ku. Kali ini dia tidak duduk dibelakang, entah maksud tujuan dia apa. Sepertinya dia tertarik dengan Metrominiku. Eh, salah maksudnya dengan aku mungkin? Bisa jadi. Dia terbangun dari mimpi buruknya sambil bilang "Nona, seperti yang aku bilang ke kamu semalam. Kalau aku akan menumpangi Metromini milik Ayahmu lagi. Benarkan?", || dalam hatiku "Dia tidak ada kerjaan apa, mengikutiku tiap hari. Lebih baik dia bekerja denganku aja jadi kernet sekalian.", lalu aku bilang ke dia "Terus emang mau ngapain bang kalau udah sampe tujuan, masih duduk disini?" || "Kamu terlihat cantik, jika jutek seperti itu." dia makin menggombal || "Ntar aye bilangin ke babeh lho yak, biar abang ga boleh naek Metromini aye lagi." || "Boleh, bilangin saja kalau aku ini calon menantunya. Terus tolong sampaikan ke ayah kamu juga, kalau nanti akan ada penerus Ayahmu sebagai Supir Metromini." Dia semakin menjadi. || "Abang kenapa? lagi sakit? Berobat bang, di Metromini mah kagak nyediain obatnya." || "Kau masih saja tak paham dengan maksudku, aku minta nomor hp kau nona cantik. Maaf salah, maksudku Nona Ipeh. Masa komunikasi saja tidak boleh." || "Aye kasih nomer telepon tapi abang bantuin aye. Bisa gak?" || "Minta bantuan apa nona? Tak usah sungkan." || "Aye mau cari pekerjaan baru, gak mau jadi kernet metro lagi. Babeh juga yang nyuruh aye cari kerjaan." || "Loh kenapa? Baru saja aku mau menemani kau ngernet Metro. Masa sudah mau pindah profesi." || "Aye sebenernya emang gak mau ninggalin kerjaan ini, tapi babeh pengennya aye kerja di kantoran. Abang bisa masukin kerja aye di kantoran gak?", lalu Zefan terdiam. Dalam hati Zefan "Padahal aku saja baru mau berhenti dari tempatku bekerja, kenapa si Ipeh mau bekerja di kantoran. Aku harus bicara apa ke dia supaya mengerti, kalau bekerja di kantor itu tidak seperti yang dia bayangkan. Tapi tidak mungkin kan, kalau aku tidak membantunya. Aku harus cari cara supaya tetap bisa milikinya."

  Photo Credit By: www.merdeka.com

Setelah nomor telepon yang Ipeh kasih ke Zefan, akhirnya mereka berdua berkomunikasi. Dan Zefan mau ikut Ipeh sama bapaknya narik Metromini. Setelah berkeliling jalan rute Metro. Aku menanyakan kelanjutannya dengan Zefan, dia pun belum bisa memberi jawaban malah bilang seperti ini "Nona Ipeh, mending kau ikut kursus dulu. Soalnya untuk bekerja dikantoran itu harus mempunyai keahlian khusus. Kau bisa komputer atau bahasa inggris tidak?" tanyanya. Aku jawab ga bisa dua-duanya. Aku mana bisa bahasa inggris, tiap hari saja bicaranya cablak mau ngomong pakai bahasa inggris. Yang aku tahu cuma Yes sama No saja. Paling tidak kata "I" terus "You", selebihnya mengangguk saja. Soal komputer, aku mana paham tekhnologi tahunya pesbukan doang sama mengetik masih lihat huruf nya yang terpisah-pisah. Dalam hatiku "Babeh pake acara nyuruh aye kerja di kantoran sih, udah tauan anaknya kagak pinter. Dikira kerja dikantor gampang ape." terus Zefan lanjut pembicaraannya "Bukan maksud aku buat kamu minder, tapi ada baiknya kalau kamu pelajari dulu sebelum masuk ke dunia kerja kantoran. Bukan begitu Nona Ipeh?", || terus aku bilang "Iyaiya.. Tapi aye ga mau dipanggil nona. Udeh kayak orang belande aje manggilnya nona. Mpok Ipeh aje bang manggilnya." || Zefan: "Oh seperti itu baik lah kalau gitu, atau abang panggil neng aja apa yak?" || "Abang sebenernya orang mana sih? Neng kan panggilan orang sunda." || "Lah iya emang neng fikir abang orang mana? Abang emang orang sunda atuh neng. Abdi teh aslina ti Sumedang." sambil tersenyum.

  Photo Credit By: m.infospesial.net

Saat dia sudah berusaha untuk melupakan masa lalunya, Clara muncul dihadapannya lagi. Dia meminta maaf pada Zefan dan berharap Zefan masih mau menerimanya lagi. "Aku tahu kamu masih marah denganku, bahkan tidak menerima ku dikehidupanmu untuk kedua kalinya. Tapi bisakah kita melupakan yang lalu, membangun masa depan kita bersama dari sekarang." mendengar ucapan Clara yang merasa dirinya seperti tidak melakukan kesalahan, membuat Zefan semakin yakin untuk meninggalkan dirinya. "Hah? Kata kamu apa barusan? Melupakan yang sudah berlalu, membangun masa depan dari sekarang. Membangun masa depan bersama siapa maksud kau? Lalu, pria yang kau pilih pada saat itu, dia dimana sekarang? Jangan bilang kau ditinggal dia, lalu mengajak ku kembali untuk dikecewakan berulang kali. Oh ya, sekalian aku mau jujur sama kamu kalau aku sekarang sudah menemukan pengganti kamu ra. Ya, aku sekarang sudah menikmati hidupku yang membaik. Ku harap kau tak perlu hadir di kehidupanku lagi. Cukup kemarin aku berbaik hati dengan orang yang salah." setelah menjelaskan seperti itu, lalu Zefan pergi meninggalkan Clara. 

Zefan langsung menemui Ipeh dirumahnya. Dia memberanikan diri untuk bicara pada kedua orang tuanya kalau ia ingin melamar putrinya. Ia ingin menjalin hubungan serius, karena Zefan sudah merasa cocok dengan Ipeh. "Beh, Nyak maksud tujuan aye kemari mau melamar putrinya enyak sama babeh. Aye berharap bisa mendengar kabar baik dari tanggepan enyak juga babeh." || "Emangnye lu udeh yakin bakalan berjodoh ame anak gue, lu pan baru kenal berapa bulan ame Ipeh. Jangan buru-buru lu. Lagian juga ipeh nya mau kagak ame lu. Ipeh anak perawan gue satu-satunya. Jadi jangan pernah nyakitin perasaan anak gue, kalo kagak mau berurusan sama babehnya.." ucap bapaknya Ipeh. Ipeh memang anak perempuan satu-satunya. Dan adiknya 2 orang laki-laki masih sekolah. 

Tiba-tiba Clara mendatangi Ipeh, saat dia makan di warung. Clara ingin tahu siapa orang yang berhasil menarik perhatian Zefan sampai dia tidak mau balikan sama Clara. 
"Ini yang namanya Ipeh?" Clara bicara dengan temannya sambil menepuk bahuku. Dia ketempat ku biasa makan bersama temannya. "Iya, ada apa ya?" Sahutku. || "Oh jadi ini yang bikin Zefan klepek-klepek. Kok mau ya Zefan sama cewek kampungan kaya lu? Udah miskin, kucel, terus ngimpi banget mau dapetin cowok keren kaya laki gue." || "Eh, hati-hati lo ya kalo ngomong. Tau darimana lu gue orang kampungan, gue emang susah tapi ga kayak lo yang banggain harta orangtua. Lagian siapa juga yang mau sama Zefan, dia aja yang deketin gue terus. ama satu lagi, lo pantes aje ditinggal ama dia. Penampilan lo boleh oke, tapi mulut lo tuh pas disekolah, pasti kagak pernah ikut nyampe kelas juga kali yak? ngikut pelajaran... Makanya sekolah tuh bukan otak aja yang disuruh belajar, mulut lo juga suruh ikut belajar tuh biar tau gimana caranya ngomong sama orang laen. Sembarangan aja lo kalo ngomong, kenal kagak langsung maen ngata-ngatain orang." belum selesai ngomong, aku langsung dilerai oleh orang sekitar warung termasuk ibu pemilik warung. Aku disuruh menahan emosi, sedangkan dia disuruh pergi dari tempat aku makan. "Udah sabar neng, namanya juga orang kaya suka blagu gitu dah. Lagian siapa itu orang? Kagak ada sopan-sopannya jadi cewek. Kayak kagak punya etika, masa kalah ama kita yang emang sekolah aja kagak tamat." Kata ibu mirna, pemilik warung. 

Selesai makan aku langsung saja pulang kerumah. Saat dirumah ternyata ada Zefan yang sedang berbicara dengan orangtua ku di ruang tamu. "Tuh dia anaknya nongol, baru aja diomongin." Kata babeh. Terus aku langsung saja ke kamar tanpa basa-basi. Ibu memanggil tak kupedulikan. "Ipeh, lu ada tamu juga bukannya temenin malah langsung masuk ke kamar." Ucap ibuku. Zefan berusaha memakluminya, lalu dia izin pamit saja pada orangtuaku. "Yaudah kalo gitu ya beh, enyak. Nanti aye kemari lagi buat lanjutin omongan tadi." Ujarnya sebelum pulang.

Zefan dapat kabar dari temannya kalau Clara baru saja melabrak Ipeh, tapi Clara malah diusir oleh orang yang lagi pada makan disana. Mendengar kabar tersebut Zefan langsung menemui Clara untuk menanyakan apa maksudnya dia bertemu dengan Ipeh, terus 
Clara mendapatkan informasi dari siapa tentang kekasih barunya dia (Zefan).

"Ra, maksud kamu apa menemui Ipeh? Kamu tahu dari mana soal dia? Terus kamu bicara apa aja sama Ipeh? Kita ini sudah tidak memiliki hubungan apa-apa. Jadi ga perlu kamu ikut campur urusan hidup ku lagi. Lagipula bukan ini mau mu juga? Yang waktu itu pernah bilang kalau aku udah ga punya arti lagi dikehidupanmu. Itu artinya aku memang sudah tidak dibutuhkan. Sekarang kau malah mengingkarinya." Ucap Zefan sambil menahan sebuah kekecewaan.

"Zefan aku ga ngerti sama kamu kenapa setelah putus dari aku, kamu malah miliki selera rendah. Apa baiknya juga dia dari aku? Dia cuma gadis kampung, norak, bergaulnya aja sama orang ga berpendidikan. Soal cantik? Aku jauh lebih cantik dari dia, kamu mau punya pasangan gayanya kayak preman pasar?" Ucap clara yang kesal karena sempat dipermalukan Ipeh didepan banyak orang. Itu juga karena ulahnya dia sendiri, yang selalu menganggapnya dirinya lebih baik dari orang lain. Meremehkan orang lain.

"Ini yang sebenarnya ingin aku omongin dari dulu, kamu itu tak ubah nya seperti yang dulu. Kau boleh saja terlahir dari orang yang memiliki harta berkecukupan, tapi ada hal yang tidak pernah kamu ingat bahwa kekayaan saja tidak cukup untuk membuat orang jadi bahagia. Kau perlu bukti? Sudah jelas, jika dengan harta itu bisa membuat mu merasa bahagia, terus kenapa kamu balik lagi sama aku? Kenapa tidak hidup dengan pria pilihanmu itu? Dimana sekarang Keith? Pria yang kamu pilih saat itu. Kamu juga tidak tahu sifat Ipeh yang sebenarnya, jadi tak perlu menilai dia menurut versimu sendiri. Ipeh orang yang sederhana, gadis yang mengerti dan juga bisa menghargaiku sebagai prianya. Jadi lebih baik kau belajar banyak darinya, bukan menjelaskan semua yang tidak terbukti. Aku malas berdebat sama kamu, karena ku fikir semuanya sudah berakhir. Kau harus nya sudah bahagia dengan pilihanmu itu bukan nya balik sama aku." Zefan menjelaskan semua kekesalannya.

"Kamu tidak bisa memberiku kesempatan untuk sekali ini lagi saja? aku janji setelah kejadian yang sudah berlalu. Kita akan perbaiki nya dengan bersama." Ujar Clara dengan memohon.

"Ra, kamu itu sudah dewasa seharusnya bisa lebih paham masalah perasaan itu tidak sama dengan mainan anak kecil. Yang ketika bosan, bisa kita tinggal lalu cari yang baru yang lebih menarik. Aku sudah memutuskan untuk melanjutkan hubungan ku dengan Ipeh ke jenjang yang lebih serius. Dan aku minta pada kau jangan pernah ikut campur dengan urusanku, apalagi bermasalah dengan Ipeh. Kau bisa tahu sendiri akibatnya, Aku sudah berusaha memaafkan kamu, tapi bukan untuk kembali. Aku harap kamu bisa mengerti keputusanku." penjelasan terakhir Zefan sebelum dia meninggalkan Clara.

  Photo Credit By: amiratthemovies.com

Zefan berusaha menjelaskan pada Ipeh. "Peh, aku minta maaf sebelumnya sama kamu karna tidak menceritakan masa lalu ku yang sebelumnya. Aku berharap kamu bisa mengerti." tukasnya. || "Aku ga tau harus gimana lagi, aku fikir kamu orang yang bisa dipercaya. Tapi nyatanya masih ada saja yang disembunyikan." || "Sebenarnya aku ingin menceritakan ini, cuma ku fikir waktunya aja belum tepat. Jadi kamu mau nya gimana? Aku mohon kamu jangan ambil keputusan sepihak. Difikirkan dulu matang-matang." ucap Zefan penuh harap-harap cemas, karena dia ingin mendengarkan tanggapan yang positif dari Ipeh. || "Aku mau kamu berjanji apapun masalah yang kita hadapi itu harus dibicarakan bersama. Biarkan yang sudah terjadi, tapi aku harap itu tidak akan pernah terulang." || "Iya abang janji, serius dah." ujar Zefan sambil mencairkan suasana. || "Bisa saja ngelesnya." kataku. || "Neng, abang mau ngomong sesuatu nih. Penting." || "Ngomong apa? Dari tadi juga kita udah ngomong bang." || "Serius ini. Neng emang ga dikasih tau sama enyak babeh kalo abang mau ngelamar neng?" || "Iya abang emang juga serius mau ngelamar aye? Jangan php aje bang. Soalnya aye bukan anak abg lagi." || "Yaudah neng mau ikut abang kenalin ke orang tua abang ga di Sumedang?" || "Jauh amat bang, kita naek apa kesananya?" || "Lah iya baru juga Sumedang, belom San Fransisco. Kite kesananye naek bus pariwisata lah, masa pake Metromini punye babehnye Neng Ipeh." ucap Zefan sambil bercanda. || "Abang bisa ajadah yak ngelucunya. Iyadah, sekalian jalan-jalan ya. aye pan belom pernah keluar kota. Apalagi tuh San Fransisco, aye tau tempatnya juga kagak." jawabku. || "Okedeh neng geulis, gagaduhannana Aa Zefan. Hehee." Ucap Zefan. 

  Photo Credit By: www.wisatakotabanjar.com

"Assalamualaikum.. Apa', Ama'.." Ucap Zefan saat tiba di kampung halamannya. || "Waalaikum salam. Eehh... Putra ama. Kumaha damang? Anjeun sami saha Zefan?" || "Kenalkeun Ama.. ieu teh calon pamajikan Abdi, namina Ipeh aslina ti Jakarta." || "Duuh, geulis pisan ieu mojangna.." jawab ibunya Zefan. Dan aku hanya bisa diam sambil senyum-senyum tidak mengerti. Akhirnya Zefan menjelaskan pada orangtua nya, kalau aku tidak mengerti bahasa sunda. Jadi untuk sementara mereka bicara pakai bahasa Indonesia padaku. "Iya neng, Zefan udah cerita banyak sama ibu tentang Neng Ipeh. Gapapa, belum bisa bahasa sunda. Nanti diajarin sedikit-dikit sama ibu, lama-lama juga terbiasa bisa lancar." || "Iya bu terima kasih." ujarku. 

Tak perlu panjang lebar, Zefan menceritakan pada orangtua nya untuk meminta restu agar pernikahannya denganku bisa berjalan lancar, dia juga meminta pada ayah ibunya untuk bertemu kedua orang tuaku di Jakarta. Karena kita akan menggelar pernikahannya dirumahku (mempelai wanita). Akhirnya doa serta harapan kita bersambut dengan baik, orangtua nya mengizinkan dan rencananya akan datang kerumahku. Aku dan Zefan tinggal menentukan tanggal pernikahannya.

Saat di sumedang, aku mengunjungi tempat wisata sumedang yaitu waduk jatigede yang lokasinya tidak jauh dari rumahnya Zefan. Tiba-tiba dia bicara seperti ini "Diraksukan Kabaya, nambihan cahayana. Dongdosan sederhana, Mojang Priangan~…", || lalu aku tanya artinya "Artinya apa bang?" || "Maksudna teh neng pake baju kebaya khas sunda, terus menampakan cahaya di wajah neng Ipeh dengan riasan sederhana, gadis priangan. kurang lebih gitu artinya neng geulis." dia menjelaskan sekaligus memberitahuku bahwa itu bagian lirik dari lagu mojang priangan, lagu dari Tanah Pasundan. 

  Photo Credit By: autobiografi2015.blogspot.co.id

                 Photo Credit By: thebridedept.com

Hari bahagia itu pun tiba, aku melangsungkan pernikahan dengan Zefan. Dan kita menggunakan 2 Pakaian Adat Tradisional yaitu Betawi dengan Sunda.


    Photo Credit By: pesonahijab.net

Setelah menikah akhirnya aku disarankan untuk membuka toko catering saja, nanti soal menu masakan bisa dibantu dengan ibu serta ibu mertuaku. Jadi aku tidak perlu bekerja dikantor. Zefan ingin aku mempunyai usaha yang dikelola sendiri, agar tetap bisa mengurus rumah serta anak-anakku nanti. Demikianlah kisah tentang hidupku seorang GADIS METROMINI . Meskipun aku hanya Kernet Angkutan Umum, namun setidaknya aku beruntung bisa memiliki pria yang baik. The end.

                             

Post a Comment

0 Comments